“KKN 2026 IAKN Ambon: Mahasiswa Didorong Mengembangkan Digitalisasi Pariwisata dan Edukasi Berbasis Teknologi” menjadi gambaran utama dari kegiatan pembekalan Kuliah Kerja Nyata yang diselenggarakan Institut Agama Kristen Negeri Ambon pada Kamis, 9 Juli 2026. Bertempat di Auditorium IAKN Ambon, kegiatan ini membekali 147 mahasiswa dengan wawasan mengenai digitalisasi pariwisata, pemanfaatan teknologi dalam bidang edukasi, serta penguatan harmoni budaya dan religius sebagai bekal sebelum melaksanakan pengabdian di tengah masyarakat.
Pembekalan KKN Tahun 2026 mengusung tema “Inovasi Kreatif 2026: Digitalisasi Pariwisata, Edukasi Berbasis Teknologi, dan Rajutan Harmoni Budaya-Religius.” Tema tersebut menunjukkan komitmen IAKN Ambon untuk mendorong pelaksanaan KKN yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk menjalankan kegiatan pengabdian secara konvensional, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan program yang inovatif, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada era digital.
Bagi mahasiswa, KKN merupakan kesempatan untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan ke dalam kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dituntut untuk mampu membaca kondisi sosial, mengenali potensi wilayah, menemukan persoalan yang dihadapi masyarakat, serta menyusun solusi yang dapat diterapkan secara nyata.
Karena itu, pembekalan menjadi tahapan penting agar mahasiswa tidak datang ke lokasi pengabdian hanya dengan membawa daftar program kerja. Mereka perlu memiliki pemahaman mengenai karakter masyarakat, potensi lokal, pola komunikasi, perkembangan teknologi, serta cara membangun kerja sama dengan berbagai pihak.
Sebanyak 147 mahasiswa peserta KKN akan ditempatkan pada 10 lokasi yang tersebar di beberapa wilayah pelayanan gerejawi di Pulau Ambon. Lokasi tersebut meliputi wilayah Klasis Ambon Timur di Kecamatan Leitimur Selatan, yaitu Negeri Hukurila, Kilang, dan Ema.
Mahasiswa juga akan melaksanakan KKN di wilayah Klasis Ambon Utara, Kecamatan Teluk Ambon, yang mencakup Negeri Poka dan Rumah Tiga. Sementara itu, lokasi lainnya berada di wilayah Klasis Pulau Ambon, Kecamatan Nusaniwe, yakni Negeri Amahusu, Eri, Airlouw, dan Latuhalat.
Penempatan mahasiswa pada berbagai negeri tersebut membuka peluang untuk mengembangkan program pengabdian berdasarkan potensi dan kebutuhan masing-masing wilayah. Setiap lokasi memiliki karakter sosial, budaya, keagamaan, dan sumber daya lokal yang berbeda. Oleh sebab itu, mahasiswa diharapkan mampu merancang kegiatan secara kontekstual dan tidak menerapkan satu bentuk program yang sama untuk seluruh wilayah.
Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah sektor pariwisata. Pulau Ambon memiliki kekayaan alam, budaya, sejarah, dan kehidupan sosial yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas melalui strategi komunikasi yang tepat. Namun, potensi tersebut membutuhkan pengelolaan informasi, promosi, dan penggunaan teknologi digital yang terencana.
Untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai hal tersebut, pembekalan menghadirkan Zainal A. Launuru, S.STP., M.Si., Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Dinas Pariwisata Provinsi Maluku. Dalam materinya, ia membahas pengembangan destinasi wisata melalui pendekatan Smart Tourism, pemanfaatan teknologi digital, serta strategi promosi yang berangkat dari potensi lokal.
Pendekatan Smart Tourism menempatkan teknologi sebagai sarana untuk mendukung pengembangan dan promosi destinasi wisata. Dalam penerapannya, mahasiswa dapat membantu masyarakat mendokumentasikan potensi desa, mengembangkan informasi destinasi, membuat materi promosi, serta menggunakan media sosial untuk menjangkau khalayak yang lebih luas.
Mahasiswa juga dapat berkontribusi melalui pembuatan foto, video, narasi wisata, profil negeri, peta digital sederhana, dan berbagai bentuk konten kreatif. Melalui proses tersebut, potensi lokal tidak hanya diperkenalkan sebagai objek wisata, tetapi juga dikemas dengan tetap memperhatikan identitas, nilai budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat setempat.
Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, materi mengenai digitalisasi pariwisata memiliki keterkaitan erat dengan kompetensi di bidang komunikasi publik, media, produksi konten, hubungan masyarakat, dan strategi promosi. Mahasiswa dapat menerapkan kemampuan menyusun pesan, mengenali khalayak, memilih media, serta memproduksi konten yang informatif dan menarik.
Namun, promosi pariwisata tidak hanya mengejar jumlah tayangan, tanda suka, atau kunjungan. Komunikasi pariwisata juga harus memperhatikan keakuratan informasi, keterlibatan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan penghormatan terhadap nilai budaya lokal. Konten yang diproduksi perlu mewakili masyarakat secara adil dan tidak sekadar menjadikan budaya sebagai bahan visual tanpa memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Selain Zainal A. Launuru, pembekalan menghadirkan Beatriz Tanasale, dosen Ilmu Komunikasi yang dikenal sebagai praktisi media, visual, dan kecerdasan buatan atau AI. Ia mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana edukasi, komunikasi publik, serta penguatan identitas budaya lokal.
Materi tersebut penting karena teknologi kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Media sosial, perangkat digital, aplikasi desain, produksi video, dan teknologi kecerdasan buatan dapat digunakan untuk mendukung berbagai program KKN. Mahasiswa dapat membuat media pembelajaran, materi kampanye sosial, dokumentasi kegiatan, konten promosi, dan informasi pelayanan publik yang lebih mudah dipahami.
Dalam konteks edukasi, teknologi dapat membantu mahasiswa menyampaikan informasi dengan cara yang lebih kreatif dan menarik. Materi mengenai kebersihan lingkungan, kesehatan, pendidikan, toleransi, pelestarian budaya, dan penggunaan media yang sehat dapat dikemas dalam bentuk poster, video pendek, presentasi, infografik, maupun konten media sosial.
Meskipun demikian, pemanfaatan teknologi tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan pertimbangan etis. Mahasiswa perlu memastikan informasi yang digunakan berasal dari sumber yang tepat, tidak melanggar privasi, tidak menyebarkan informasi keliru, serta tidak menghasilkan konten yang dapat merugikan masyarakat.
Kehadiran kecerdasan buatan juga perlu dipahami sebagai alat bantu, bukan pengganti tanggung jawab manusia. Setiap materi yang dihasilkan menggunakan teknologi harus diperiksa kembali dari segi kebenaran, bahasa, konteks budaya, serta kesesuaiannya dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui kedua materi tersebut, mahasiswa didorong agar tidak hanya menjalankan program kerja yang bersifat seremonial. Mereka diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang relevan dan memberikan manfaat nyata. Digitalisasi potensi wisata, pembuatan konten kreatif, pemanfaatan media sosial, serta pengembangan media edukasi berbasis teknologi menjadi beberapa pendekatan yang dapat diterapkan selama pelaksanaan KKN.
Mewakili Rektor IAKN Ambon, Wakil Rektor II, Dr. Herly Lesilolo, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa pembekalan merupakan tahapan penting sebelum mahasiswa diterjunkan ke tengah masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang untuk menyamakan persepsi dengan para dosen pembimbing lapangan.
Penyamaan persepsi diperlukan agar pelaksanaan KKN berlangsung secara terarah, terkoordinasi, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dosen pembimbing memiliki peran penting dalam mendampingi mahasiswa, membantu penyusunan program, memantau pelaksanaan kegiatan, serta memastikan bahwa pengabdian dilakukan dengan tetap memperhatikan tujuan akademik dan kebutuhan masyarakat.
Dr. Herly Lesilolo mengingatkan agar setiap program kerja yang dirancang benar-benar berangkat dari kebutuhan masyarakat. Mahasiswa tidak seharusnya memaksakan program yang telah disusun tanpa terlebih dahulu melakukan pengamatan dan membangun komunikasi dengan masyarakat.
Program KKN juga perlu dilaksanakan melalui kolaborasi dengan pemerintah negeri, gereja, serta berbagai unsur masyarakat. Kerja sama tersebut akan membuat program lebih mudah diterima dan memiliki peluang lebih besar untuk dilanjutkan setelah masa KKN berakhir.
“KKN bukan sekadar menjalankan program yang telah disusun. Kehadiran mahasiswa harus mampu melahirkan ide-ide baru, menawarkan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat, serta menciptakan karya-karya kreatif yang memberi manfaat berkelanjutan. Program yang dijalankan harus cepat, tepat, dan berdampak,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan. Program yang sederhana tetapi sesuai kebutuhan masyarakat dapat memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan kegiatan yang terlihat meriah namun tidak memiliki dampak jangka panjang.
Mahasiswa perlu membangun komunikasi sejak awal dengan pemerintah negeri, tokoh agama, pemuda, kelompok perempuan, pelaku usaha, dan masyarakat setempat. Melalui dialog tersebut, mahasiswa dapat memperoleh gambaran mengenai potensi wilayah, permasalahan yang sedang dihadapi, serta bentuk program yang paling dibutuhkan.
Lebih lanjut, peserta diajak untuk memanfaatkan KKN sebagai ruang belajar sekaligus ruang pengabdian. Mahasiswa diharapkan hadir bukan sebagai pihak yang merasa paling mengetahui kebutuhan masyarakat, melainkan sebagai mitra yang bersedia belajar, mendengar, dan bekerja bersama.
Kehadiran mahasiswa sebagai mitra pemberdayaan berarti setiap kegiatan perlu melibatkan masyarakat secara aktif. Mahasiswa dapat membagikan pengetahuan dan keterampilan, sementara masyarakat memberikan pemahaman mengenai kondisi, budaya, pengalaman, dan kebutuhan lokal.
Proses tersebut akan membangun hubungan yang lebih harmonis serta mencegah program KKN berhenti setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian. Program yang dirancang bersama masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk dipelihara dan dikembangkan secara mandiri.
Konsep Smart Tourism Maluku 2026 yang diangkat dalam pembekalan menjadi langkah awal IAKN Ambon untuk menyiapkan mahasiswa yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pada saat yang sama, mahasiswa tetap diarahkan untuk memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya dan penguatan nilai-nilai religius.
Digitalisasi tidak seharusnya menghilangkan identitas masyarakat. Sebaliknya, teknologi dapat digunakan untuk mendokumentasikan cerita lokal, mempromosikan tradisi, memperkenalkan sejarah negeri, serta memperkuat kesadaran generasi muda terhadap warisan budaya mereka.
Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, pelaksanaan KKN 2026 merupakan kesempatan untuk membuktikan bahwa kemampuan komunikasi dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Keahlian dalam menulis, berbicara, melakukan dokumentasi, mengelola media sosial, memproduksi visual, dan menyusun strategi komunikasi dapat diarahkan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat.
Mahasiswa dapat membantu negeri membangun identitas digital, memperbaiki penyampaian informasi publik, mendokumentasikan kegiatan masyarakat, serta memperkenalkan potensi lokal melalui konten yang kreatif dan bertanggung jawab. Dalam proses tersebut, mahasiswa juga belajar memahami komunikasi tidak hanya sebagai teori, tetapi sebagai praktik sosial yang membutuhkan empati dan kemampuan beradaptasi.
Melalui pembekalan ini, IAKN Ambon berharap pelaksanaan KKN tidak sekadar meninggalkan rangkaian kegiatan atau laporan administratif. Program yang dijalankan diharapkan menghasilkan inovasi berkelanjutan, memperkuat kapasitas masyarakat, serta mendukung pengembangan potensi lokal di setiap wilayah pengabdian.
KKN 2026 menjadi momentum bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, nilai budaya, semangat pelayanan, dan kepedulian sosial. Dengan persiapan yang matang serta kemampuan membangun kolaborasi, mahasiswa diharapkan mampu hadir sebagai komunikator, pembelajar, dan penggerak perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat.