“Lomba Debat FISK 2025, Ruang Mahasiswa Mengasah Nalar Kritis dan Komunikasi Akademik” menjadi gambaran semangat kegiatan yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan Kristen pada Selasa, 28 Oktober 2025. Bertempat di Plaza FISK, kegiatan ini hadir sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi, serta menyampaikan gagasan melalui komunikasi ilmiah yang santun dan bertanggung jawab.
Lomba Debat FISK merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa melalui program Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas atau DPMF FISK. Kehadiran kegiatan ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya berperan sebagai peserta dalam proses pendidikan, tetapi juga mampu menjadi penggerak berbagai aktivitas akademik di lingkungan kampus.
Melalui lomba debat, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menguji pengetahuan, keberanian, dan kemampuan berkomunikasi di hadapan publik. Peserta tidak hanya dituntut berbicara dengan lancar, tetapi juga harus mampu memahami persoalan, menemukan inti perdebatan, menyusun alasan yang kuat, dan menanggapi argumentasi dari sudut pandang yang berbeda.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Dekan FISK, Febby N. Patty, D.Th., S.Ag., M.Th. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan lomba debat tersebut.
Dekan berharap kegiatan ini dapat menjadi momentum penting dalam menumbuhkan kultur akademik di lingkungan FISK. Kultur akademik tidak hanya dibentuk melalui kegiatan perkuliahan di dalam kelas, tetapi juga melalui berbagai ruang diskusi yang mendorong mahasiswa untuk bertanya, berpendapat, menilai informasi, dan mempertanggungjawabkan setiap gagasan yang disampaikan.
Debat menjadi salah satu sarana yang dapat digunakan untuk melatih kemampuan tersebut. Dalam proses debat, mahasiswa perlu mengembangkan ketajaman analisis agar mampu melihat sebuah persoalan dari berbagai sisi. Peserta juga harus dapat membedakan antara pendapat pribadi, asumsi, dan argumentasi yang didukung oleh fakta maupun dasar pemikiran yang jelas.
Febby N. Patty turut menekankan bahwa debat memiliki peran penting dalam melatih kemampuan berargumentasi serta keberanian menyampaikan gagasan secara ilmiah dan santun. Keberanian berbicara di ruang publik perlu disertai dengan tanggung jawab terhadap isi pesan yang disampaikan.
Mahasiswa tidak cukup hanya tampil percaya diri, tetapi juga perlu memperhatikan ketepatan informasi, susunan pemikiran, penggunaan bahasa, dan sikap terhadap lawan bicara. Dengan demikian, debat tidak berubah menjadi pertengkaran atau adu suara, melainkan menjadi ruang pertukaran gagasan yang sehat.
Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, kegiatan debat memiliki hubungan yang erat dengan berbagai kompetensi yang dipelajari selama perkuliahan. Kemampuan menyusun pesan, mengenali khalayak, memilih kata, menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal, serta menanggapi pesan secara tepat merupakan bagian penting dalam sebuah perdebatan.
Debat juga mengajarkan bahwa komunikasi bukan hanya tentang kemampuan menyampaikan pendapat. Seorang komunikator perlu memiliki kemampuan mendengarkan, memahami konteks, membaca situasi, dan memberikan respons yang sesuai terhadap gagasan orang lain.
Kemampuan tersebut dibutuhkan dalam berbagai bidang pekerjaan komunikasi, seperti jurnalistik, hubungan masyarakat, penyiaran, komunikasi politik, komunikasi organisasi, dan media digital. Setiap praktisi komunikasi akan berhadapan dengan beragam pendapat, kepentingan, dan karakter khalayak.
Karena itu, pengalaman mengikuti kegiatan debat dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi yang terstruktur, kritis, dan tetap menghargai orang lain. Mahasiswa dilatih untuk mempertahankan gagasannya tanpa merendahkan pihak yang memiliki pandangan berbeda.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Dekan I FISK, Dr. Sipora B. Warella, S.Ag., M.Pd.K., serta para dosen FISK. Kehadiran unsur pimpinan dan dosen menunjukkan dukungan fakultas terhadap kegiatan mahasiswa yang berorientasi pada pengembangan kemampuan akademik.
Dukungan tersebut penting untuk menciptakan lingkungan kampus yang memberikan ruang bagi mahasiswa dalam berekspresi dan mengembangkan potensi. Mahasiswa membutuhkan ruang yang memungkinkan mereka belajar melalui pengalaman, termasuk pengalaman berbicara, berdiskusi, bekerja dalam tim, dan menghadapi perbedaan pendapat.
Kompetisi debat ini menghadirkan Hanry H. Tapotubun, M.A. sebagai moderator. Moderator memiliki peran penting dalam menjaga agar jalannya perdebatan berlangsung secara teratur, adil, dan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
Dalam sebuah kompetisi debat, moderator bukan hanya mengatur giliran berbicara. Moderator juga membantu memastikan bahwa peserta tetap berada pada topik pembahasan, menghormati batas waktu, serta menjaga suasana kompetisi agar tetap kondusif.
Sementara itu, dewan juri dalam Lomba Debat FISK terdiri atas Dr. Alce A. Sapullete, S.Th., M.Si., Selvone Ch. Pattiserlihun, M.A., dan Ismetyati N. Tuhuteru, M.Fil. Kehadiran dewan juri memberikan penilaian akademik terhadap kemampuan peserta dalam menyampaikan dan mempertahankan argumentasi.
Penilaian dalam debat pada umumnya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara. Kekuatan analisis, relevansi argumentasi, ketepatan dalam memberikan tanggapan, kerja sama tim, serta sikap selama kompetisi menjadi bagian penting yang menunjukkan kualitas seorang peserta.
Melalui proses tersebut, mahasiswa belajar bahwa sebuah pendapat perlu dibangun melalui pemahaman yang matang. Pernyataan yang disampaikan tanpa dasar yang jelas akan mudah dipatahkan, sedangkan argumentasi yang tersusun secara logis akan lebih mudah diterima dan dipertanggungjawabkan.
Kegiatan debat juga membantu mahasiswa memahami pentingnya riset sebelum berbicara. Untuk membahas sebuah topik, peserta perlu membaca, mencari data, membandingkan informasi, dan memahami berbagai perspektif yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
Kebiasaan melakukan riset menjadi semakin penting pada era digital ketika informasi beredar dengan sangat cepat. Mahasiswa perlu mampu membedakan informasi yang dapat dipercaya dan informasi yang belum terverifikasi. Kemampuan tersebut tidak hanya berguna selama kompetisi, tetapi juga dalam kehidupan akademik dan sosial.
Selain mengasah nalar kritis dan keterampilan komunikasi, Lomba Debat FISK turut menjadi ruang pembelajaran untuk menghargai perbedaan pandangan. Dalam sebuah perdebatan, peserta dapat ditempatkan pada posisi yang berbeda, baik mendukung maupun menolak suatu gagasan.
Perbedaan tersebut tidak harus dipandang sebagai ancaman terhadap hubungan antarmahasiswa. Sebaliknya, perbedaan pendapat dapat menjadi kesempatan untuk memperluas pemahaman dan melihat sebuah persoalan dari sudut pandang yang sebelumnya tidak dipertimbangkan.
Sikap menghargai perbedaan merupakan bagian penting dari semangat akademik yang sehat. Lingkungan perguruan tinggi seharusnya menjadi tempat berbagai gagasan dapat dibicarakan secara terbuka, sepanjang disampaikan dengan dasar yang jelas dan tetap menghormati martabat setiap orang.
Melalui debat, mahasiswa belajar memisahkan kritik terhadap gagasan dari serangan terhadap pribadi. Argumentasi dapat dibantah, dipertanyakan, atau diuji, tetapi proses tersebut harus dilakukan dengan bahasa yang santun dan tidak merendahkan pihak lain.
Keterampilan ini juga relevan dengan kehidupan masyarakat yang semakin dipengaruhi oleh media sosial. Perbedaan pendapat di ruang digital sering kali berubah menjadi perdebatan yang dipenuhi serangan pribadi, ujaran kebencian, dan informasi yang tidak benar.
Mahasiswa sebagai bagian dari kelompok intelektual diharapkan mampu menghadirkan cara berkomunikasi yang lebih sehat. Mereka perlu menunjukkan bahwa ketegasan dalam berpendapat dapat berjalan bersama kesantunan, keterbukaan, dan penghargaan terhadap perbedaan.
Terselenggaranya Lomba Debat FISK tidak terlepas dari kolaborasi dan dedikasi seluruh mahasiswa DPMF FISK. Para mahasiswa telah mengambil peran dalam merancang, mempersiapkan, dan melaksanakan kegiatan sehingga dapat berlangsung dengan baik dan penuh semangat kebersamaan.
Kerja kepanitiaan tersebut juga menjadi proses pembelajaran yang penting. Di balik sebuah kegiatan terdapat kemampuan merencanakan program, membagi tugas, membangun koordinasi, mengelola waktu, dan menyelesaikan berbagai kendala yang muncul selama persiapan.
Pengalaman mengelola kegiatan dapat membantu mahasiswa membangun keterampilan organisasi dan kepemimpinan. Keterampilan tersebut dibutuhkan ketika mahasiswa memasuki dunia kerja maupun mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.
Lomba Debat FISK menjadi bukti bahwa kegiatan kemahasiswaan dapat memberikan kontribusi langsung terhadap pengembangan kualitas akademik. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga membuka ruang perjumpaan antara mahasiswa, pimpinan fakultas, dosen, moderator, dan dewan juri dalam satu semangat pembelajaran.
Melalui ruang tersebut, mahasiswa didorong untuk terus meningkatkan kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan berpikir secara sistematis. Keempat kemampuan tersebut saling berkaitan dalam membentuk mahasiswa yang mampu menyampaikan gagasan secara jelas dan bertanggung jawab.
Lomba debat juga dapat menjadi langkah awal dalam membangun tradisi diskusi yang lebih kuat di lingkungan FISK. Kegiatan serupa dapat dikembangkan menjadi forum diskusi rutin, kajian mahasiswa, kompetisi antarkelas atau program studi, maupun ruang dialog mengenai berbagai persoalan sosial, keagamaan, budaya, dan komunikasi.
Semakin banyak ruang akademik yang tersedia, semakin besar kesempatan mahasiswa untuk berlatih menyampaikan pemikiran dan menerima kritik. Mahasiswa juga dapat belajar bahwa pengetahuan terus berkembang melalui proses bertanya, berdialog, dan menguji berbagai gagasan.
Pada akhirnya, Lomba Debat FISK 2025 menegaskan kesiapan mahasiswa FISK untuk bertumbuh sebagai generasi intelektual yang cerdas, kritis, dan berintegritas. Kemampuan berkomunikasi yang baik perlu disertai dengan pengetahuan, etika, dan tanggung jawab sosial.
Mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu berbicara di dalam ruang kompetisi, tetapi juga menggunakan kemampuan tersebut untuk memberikan kontribusi positif bagi kampus dan masyarakat. Dengan nalar yang kritis, komunikasi yang santun, dan kesiapan menghargai perbedaan, mahasiswa FISK dapat mengambil peran dalam membangun kehidupan akademik dan sosial yang lebih terbuka, dialogis, dan bermartabat.